Digital Marketing Channels: Cara Menentukan Channel Berdasarkan Objective Bisnis

Tantangan bisnis saat ini bukan lagi terbatasnya pilihan channel, melainkan menentukan channel mana yang paling layak diprioritaskan. Menggunakan SEO, Google Ads, Instagram, LinkedIn, TikTok, email, dan video sekaligus belum tentu menghasilkan strategi yang efektif jika setiap channel tidak memiliki tujuan dan peran yang jelas.
Karena itu, pemilihan digital marketing channel sebaiknya dimulai dari objective bisnis dan customer journey, bukan sekadar mengikuti tren platform. Untuk mengetahui informasi seputar digital marketing channels, mari simak pembahasannya di bawah ini.
Apa Itu Digital Marketing Channel?
Digital marketing channel adalah medium atau jalur yang digunakan bisnis untuk menjangkau audiens melalui media digital. Channel perlu dibedakan dari platform karena channel menjelaskan fungsi atau jalurnya, sedangkan platform merupakan tempat channel tersebut dijalankan.
Berikut ini adalah gambarannya dalam bentuk tabel:
| Digital Marketing Channel | Contoh Platform |
| Organic Search / SEO | Google, Bing |
| Paid Search | Google Ads, Microsoft Ads |
| Social Media | Instagram, LinkedIn, TikTok, Facebook |
| Email Marketing | HubSpot, Mailchimp, CRM/email platform |
| Video Marketing | YouTube, TikTok, Instagram |
| Display Advertising | Google Display Network, programmatic platforms |
Digital Marketing Channel Berdasarkan Objective Bisnis
Setiap bisnis memiliki tujuan marketing yang berbeda, sehingga prioritas channel juga tidak bisa disamakan. Berikut cara melihat digital marketing channel berdasarkan objective yang ingin dicapai dalam customer journey.
1. Brand Awareness
Tujuan utama pada tahap ini adalah memperluas jangkauan, meningkatkan exposure, dan membuat brand lebih mudah diingat oleh target audience. Channel yang dapat dipertimbangkan antara lain media sosial, video marketing, display advertising, influencer atau creator marketing, serta content marketing.
Channel awareness sangat berguna ketika audience belum secara aktif mencari brand atau solusi yang ditawarkan. Misalnya, perusahaan meluncurkan kategori produk baru yang belum memiliki search demand tinggi sehingga social media, video, dan display dapat membantu membangun awareness sekaligus menciptakan demand.
2. Demand Capture
Demand capture berfokus pada menjangkau orang yang sudah menunjukkan kebutuhan melalui pencarian atau aktivitas digital tertentu. SEO, Google Search Ads, serta marketplace atau search platform yang relevan dapat menjadi channel utama pada tahap ini.
Misalnya, hasil pencarian seseorang tentang “software HR untuk perusahaan” menunjukkan kebutuhan yang lebih jelas dibandingkan orang yang hanya melihat iklan software HR di media sosial. Kondisi tersebut membuat SEO dan paid search efektif untuk menangkap existing demand yang sudah terbentuk.
3. Lead Generation
Pada tahap lead generation, fokusnya adalah mengubah traffic atau audience menjadi calon pelanggan. Google Ads, SEO, LinkedIn Ads, Meta Ads, content marketing, landing page, hingga webinar atau event digital dapat digunakan sesuai karakteristik target audience.
Jumlah lead saja tidak cukup untuk menentukan keberhasilan channel, karena kualitas lead turut memengaruhi business value.
Contohnya, Google Search dapat menghasilkan lebih sedikit lead dengan CPL lebih tinggi daripada Meta Ads, tetapi jika lead tersebut lebih banyak menjadi qualified opportunity, nilainya bagi bisnis bisa lebih besar.
4. Conversion dan Sales
Tahap ini berfokus pada mengubah intent menjadi transaksi dan revenue. Paid search, remarketing, shopping ads, marketplace, email, serta CRM-based marketing dapat digunakan untuk menjangkau audience yang sudah menunjukkan ketertarikan terhadap produk atau brand.
Karena audience sudah memiliki kebutuhan atau pernah berinteraksi dengan brand, fokus pengukuran dapat diarahkan pada conversion rate, CPA, ROAS, revenue, dan kualitas sales.
Prioritas channel bukan lagi sekadar seberapa luas audience yang dijangkau, tetapi seberapa besar kontribusinya terhadap hasil bisnis.
5. Retention dan Customer Value
Digital marketing juga memiliki peran setelah customer melakukan pembelian atau menggunakan layanan. Email marketing, CRM, WhatsApp atau messaging, customer community, dan remarketing dapat membantu mendorong pelanggan untuk melakukan repeat purchase, renewal, upsell, hingga loyalty.
Tujuan akhirnya adalah meningkatkan retention dan customer lifetime value (LTV), bukan hanya mendapatkan pelanggan baru. Bagi banyak bisnis, mempertahankan pelanggan dan meningkatkan nilai dari pelanggan yang sudah ada dapat menjadi strategi yang lebih efisien daripada terus mengejar akuisisi.
Baca Juga: Performance Marketing: Definisi, Strategi, Cara Ukur, dan Tips
Peran Setiap Digital Marketing Channel dalam Customer Journey
Satu channel dapat menjalankan lebih dari satu fungsi dalam customer journey, tergantung objective, audience, creative, targeting, dan business model. Tabel berikut dapat digunakan sebagai referensi cepat untuk memahami kekuatan dan peran utama setiap channel.
| Digital Marketing Channel | Kekuatan Utama | Peran Utama |
| SEO | Menjangkau orang yang mencari informasi atau solusi secara organik. | Awareness → Evaluation → Conversion |
| Google Ads/Paid Search | Menjangkau pencarian dengan intent tinggi secara cepat. | Evaluation → Conversion |
| Social Media Organic | Membangun kehadiran brand dan interaksi dengan audience. | Awareness → Engagement |
| Paid Social | Menargetkan audience dan membangun demand. | Awareness → Consideration → Conversion |
| Content Marketing | Memberikan edukasi dan membangun kredibilitas | Awareness → Evaluation |
| Email Marketing | Membina hubungan dan mempertahankan pelanggan | Consideration → Conversion → Retention |
| Video Marketing | Menyampaikan edukasi dan storytelling secara visual. | Awareness → Consideration |
| Display/Programmatic | Memperluas reach dan melakukan remarketing. | Awareness → Retargeting |
5 Faktor untuk Memilih Digital Marketing Channel
Menentukan channel tidak cukup hanya dengan melihat platform yang sedang populer atau channel yang digunakan kompetitor. Berikut ini adalah beberapa faktor untuk memilih digital marketing channel:
1. Mulai dari Business Objective
Langkah pertama adalah menentukan hasil bisnis yang ingin dicapai, seperti meningkatkan awareness, menghasilkan leads, meningkatkan sales, memasuki market baru, atau mendorong repeat purchase. Objective yang berbeda membutuhkan KPI dan peran channel yang berbeda pula.
Hindari objective yang terlalu umum seperti “meningkatkan digital presence” karena sulit diukur keberhasilannya. Ubah menjadi target yang lebih spesifik, misalnya “meningkatkan qualified inbound leads dari perusahaan manufaktur” agar pemilihan channel dapat diarahkan pada hasil yang jelas.
2. Identifikasi Audience dan Digital Behavior
Setelah objective ditentukan, pahami siapa target audience dan bagaimana mereka mencari informasi atau mengambil keputusan. Perhatikan channel yang digunakan, jenis konten yang dikonsumsi, cara mereka menemukan solusi, serta pihak yang memengaruhi keputusan.
3. Tentukan Apakah Bisnis Perlu Generate atau Capture Demand
Salah satu pertimbangan penting dalam pemilihan channel adalah mengetahui apakah bisnis perlu menciptakan demand baru atau menangkap demand yang sudah ada. Demand generation digunakan ketika audience belum aktif mencari produk atau belum menyadari solusi, sedangkan demand capture digunakan ketika kebutuhan sudah terbentuk dan audience sedang mencari solusi.
4. Hitung Channel Economics
Pemilihan channel tidak cukup dinilai dari CPC atau CPL yang paling rendah. Perusahaan perlu melihat alur Cost → Conversion → Customer Quality → Revenue untuk mengetahui nilai sebenarnya dari sebuah channel.
Dalam B2B, pengukurannya dapat diperluas menjadi Media/Channel Cost → Lead → Qualified Lead → Opportunity → Revenue. SEO membutuhkan waktu lebih panjang untuk membangun organic visibility tetapi dapat menghasilkan compounding value, sedangkan paid advertising memberikan traffic lebih cepat dengan kebutuhan media spend yang berkelanjutan.
5. Evaluasi Measurement Capability
Perusahaan sebaiknya tidak menambah banyak channel jika kontribusinya terhadap business outcome belum dapat diukur. Setiap channel perlu memiliki KPI yang sesuai dengan perannya dalam customer journey, di antaranya:
- Tahap awareness: dapat digunakan meliputi reach, impressions, video views, dan branded search
- Tahap consideration: dapat diukur melalui traffic quality, engagement, dan content consumption
- Tahap lead generation: menggunakan conversions, CPL, dan qualified leads
- Tahap sales: menggunakan CPA, revenue, dan ROAS
- Tahap retention: menggunakan repeat purchase, renewal, dan LTV.
Baca Juga: Apa Itu SEO Marketing? Pengertian, Cara Kerja, dan Strateginya untuk Bisnis
Kapan Perlu Menambah atau Mengurangi Digital Marketing Channel?
Menambah channel bukan selalu berarti memperluas peluang marketing. Keputusan tersebut perlu didasarkan pada performa channel yang sudah berjalan. Berikut ini adalah penjelasannya:
1. Tambahkan Channel Jika
Channel baru dapat dipertimbangkan ketika existing channel sudah menunjukkan performa yang cukup konsisten dan masih terdapat audience segment yang belum terjangkau. Gap dalam customer journey juga dapat menjadi alasan untuk menambahkan channel baru jika bisnis memiliki budget serta resource yang memadai.
Pastikan kemampuan measurement sudah siap sebelum memperluas channel mix. Dengan begitu, perusahaan dapat mengetahui apakah channel baru benar-benar memberikan kontribusi atau hanya menambah aktivitas marketing.
2. Kurangi atau Hentikan Channel Jika
Channel perlu dievaluasi ulang ketika objective-nya tidak jelas, audience tidak relevan, atau performanya tetap rendah setelah proses testing yang memadai. Cost yang tidak sebanding dengan business value juga menjadi alasan untuk mengurangi atau menghentikan investasi pada channel tersebut.
Resource yang terlalu tersebar dapat membuat setiap channel tidak mendapatkan pengelolaan yang optimal. Fokus pada beberapa channel yang dijalankan secara konsisten dan mendalam sering kali lebih efektif daripada hadir di banyak channel tanpa strategi yang kuat.
Pilih Digital Marketing Channel Berdasarkan Perannya terhadap Bisnis
Tidak ada satu rekomendasi digital marketing channel yang cocok untuk semua bisnis. Pilihan channel perlu mengikuti alur objective, audience, hingga measurement agar setiap investasi memiliki fungsi yang jelas.
Jika perusahaan Anda menjalankan banyak digital marketing channel tetapi belum mengetahui channel mana yang sebaiknya diprioritaskan, Doxadigital sebagai Digital Marketing Agency Jakarta dapat membantu memetakan objective, audience, customer journey, channel mix, hingga measurement .
Penyediaan layanan digital marketing dari Doxadigital membantu perusahaan mengubah aktivitas marketing dari sekadar hadir di berbagai channel menjadi strategi yang berorientasi pada hasil. Setiap channel memiliki peran yang jelas sehingga perusahaan dapat lebih mudah melihat kontribusinya terhadap awareness, engagement, leads, hingga konversi.
