Ads

Cara Memilih Kata Kunci Google Ads: Intent, Match Type, dan Negative Keyword

21 September 2026
AI Summarize on:

Kata kunci Google Ads adalah kata atau frasa yang digunakan dalam Search Campaign untuk membantu mencocokkan iklan dengan pencarian yang relevan dari pengguna. Pemilihan keyword menentukan search demand yang berpotensi dijangkau campaign.

Namun, riset keyword Google Ads tidak cukup hanya mencari kata kunci dengan volume penelusuran tinggi. Anda juga perlu memahami search intent, relevansi bisnis, match type, search terms, serta negative keyword agar budget dapat diarahkan pada pencarian yang berpotensi menghasilkan business value.

Bagaimana Kata Kunci Bekerja dalam Google Ads?

Berikut empat komponen yang sering tertukar dalam proses keyword research:

KomponenPengertian
KeywordKata atau frasa yang ditargetkan advertiser
Search TermQuery yang benar-benar diketik pengguna
Match TypeMengatur seberapa luas keyword dapat dicocokkan dengan pencarian
Negative KeywordPencarian yang ingin dikecualikan dari targeting

Misalnya, advertiser menggunakan keyword “software CRM”, sedangkan pengguna mencari “software CRM untuk sales perusahaan”. Jika pencarian sesuai dengan keyword, match type, targeting, dan setting campaign lainnya, iklan dapat menjadi eligible untuk mengikuti auction.

Dengan demikian, keyword adalah input advertiser, sedangkan search term menunjukkan demand nyata dari pengguna. Google juga menjelaskan bahwa keyword digunakan untuk mencocokkan iklan dengan pencarian, sementara match type mengatur hubungan antara keyword dan search query.

Mulai Riset Keyword Google Ads dari Search Intent dan Business Intent

Riset keyword sebaiknya dimulai dari kebutuhan calon pelanggan, bukan langsung memilih keyword dengan volume terbesar. Gunakan tiga pertimbangan berikut:

  • Product atau Service Relevance: mulai dari produk atau layanan yang benar-benar ditawarkan. Misalnya, perusahaan software payroll dapat menggunakan seed keyword seperti “software payroll”, “aplikasi payroll”, dan “sistem payroll perusahaan”.
  • Search Intent: identifikasi kebutuhan di balik pencarian. “Cara menghitung payroll” cenderung informational, sedangkan “software payroll”, “harga software payroll”, atau “vendor payroll Indonesia” menunjukkan intent yang lebih dekat dengan solusi atau vendor intent.
  • Business Relevance: pastikan pencarian berasal dari audiens yang berpotensi menjadi customer. Misalnya, “software payroll gratis untuk mahasiswa” mungkin relevan secara topik, tetapi belum tentu sesuai dengan target enterprise software.

Karena itu, prioritas keyword dapat dilihat melalui: Search Demand × Intent × Business Relevance. Keyword dengan volume lebih kecil tetap dapat memiliki business value lebih tinggi jika intent dan relevansinya lebih dekat dengan kebutuhan customer.

Baca juga: Memahami Keyword Search Intent: Dasar Penting dalam Strategi SEO

Cara Riset Keyword Menggunakan Google Keyword Planner

Setelah seed keyword tersedia, gunakan Google Keyword Planner untuk menemukan dan memvalidasi search demand. Tool ini dapat membantu menemukan keyword baru, melihat estimasi pencarian dan biaya, serta membuat forecast untuk Search Campaign.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Discover New Keywords: masukkan produk, layanan, problem, kategori, atau website untuk mendapatkan ide keyword terkait.
  • Sesuaikan lokasi dan market: gunakan data sesuai wilayah yang ditargetkan. Untuk campaign Indonesia, misalnya, data global tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar keputusan.
  • Evaluasi metrik: perhatikan average monthly searches, competition, bid estimate, forecast, dan trend.

Namun, jangan otomatis memilih keyword hanya karena memiliki volume tinggi. Search volume lebih tepat digunakan sebagai indikasi market demand, sedangkan keputusan akhir tetap perlu mempertimbangkan intent, relevansi bisnis, dan performance campaign.

Kelompokkan Kata Kunci Berdasarkan Intent dan Tema yang Sama

Keyword list sebaiknya tidak langsung dimasukkan ke satu ad group. Kelompokkan berdasarkan:

  • Product atau Service
  • Intent
  • Theme
  • Landing Page

Contohnya:

Ad Group: CRM untuk Sales

  • CRM untuk sales
  • software CRM sales
  • aplikasi sales CRM

Landing page: CRM untuk Sales Team

Ad Group: CRM Enterprise

  • CRM enterprise
  • CRM untuk perusahaan
  • enterprise CRM software

Landing page: Enterprise CRM

Grouping yang jelas membantu menjaga alignment antara Keyword → Ad Message → Landing Page sekaligus memudahkan evaluasi performa setiap demand cluster.

Memahami Match Type pada Kata Kunci Google Ads

Match type menentukan seberapa luas pencarian dapat dicocokkan dengan keyword. Google saat ini menyediakan tiga positive match type sebagai berikut:

Match TypeFormatKarakter
Broad Matchsoftware CRMJangkauan paling luas
Phrase Match“software CRM”Lebih terkontrol
Exact Match[software CRM]Kontrol paling ketat

1. Broad Match

Broad match dapat menjangkau pencarian yang berkaitan berdasarkan makna dan berbagai signal tambahan, termasuk landing page serta keyword dalam ad group. 

2. Phrase Match

Phrase match memberikan jangkauan lebih luas daripada exact match tetapi lebih terkontrol dibandingkan broad match.

3. Exact Match

Exact match dapat mencocokkan pencarian yang memiliki meaning atau intent yang sama, sehingga syntax bukan satu-satunya dasar matching.

Match Type Mana yang Sebaiknya Digunakan?

Tidak ada satu match type yang paling tepat. Pemilihannya perlu disesuaikan dengan kondisi campaign:

  • Exact atau phrase: ketika membutuhkan kontrol lebih ketat, keyword memiliki intent spesifik, atau campaign masih mengumpulkan data.
  • Broad: ketika conversion tracking sudah reliable, campaign menggunakan conversion-based bidding, tersedia performance signal yang cukup, dan advertiser ingin menemukan additional relevant demand.

Jadi, match type bukan pilihan antara broad yang buruk dan exact yang baik. Pilihannya bergantung pada data, bidding strategy, kebutuhan kontrol, dan maturity campaign.

Gunakan Search Terms Report untuk Melihat Pencarian yang Sebenarnya

Setelah campaign berjalan, keyword research tidak berhenti di Keyword Planner. Search Terms Report menunjukkan pencarian aktual yang memicu iklan dan membantu advertiser memahami keyword yang bekerja maupun pencarian yang kurang relevan. Gunakan report untuk menemukan:

  • Search term yang menghasilkan conversion: pertimbangkan sebagai keyword baru atau demand cluster yang lebih spesifik.
  • Search term relevan tetapi belum ditargetkan: dapat menjadi peluang keyword baru.
  • Search term tidak relevan: pertimbangkan sebagai negative keyword jika memang tidak sesuai dengan produk atau audience.

Dengan demikian, Keyword Planner membantu menemukan potential demand, sedangkan Search Terms Report menunjukkan demand aktual yang berinteraksi dengan campaign. 

Negative Keyword: Menentukan Pencarian yang Tidak Ingin Ditargetkan

Strategi keyword bukan hanya menentukan apa yang ingin ditargetkan, tetapi juga apa yang perlu dikecualikan. Negative keyword membantu mencegah iklan tampil pada pencarian yang tidak sesuai dengan produk atau tujuan campaign.

Misalnya, perusahaan menjual software CRM enterprise tetapi menemukan search term:

  • CRM gratis;
  • template CRM Excel;
  • lowongan CRM specialist;
  • pengertian CRM untuk mahasiswa.

Jika pencarian tersebut konsisten tidak sesuai dengan target bisnis, advertiser dapat mempertimbangkannya sebagai negative keyword. Namun, jangan mengecualikan query secara otomatis. Evaluasi berdasarkan:

Campaign Objective → Intent → Performance Data

Negative keyword memiliki broad, phrase, dan exact match, tetapi cara kerjanya berbeda dari positive keyword match types dan tidak otomatis mencakup close variants. Karena itu, penggunaannya perlu hati-hati agar tidak memblokir valuable search demand. 

Baca juga: 12 Tools SEO Gratis Terbaik yang Membantu Bisnis Anda Tumbuh

Contoh Keyword Strategy Google Ads untuk Bisnis B2B

Misalnya sebuah perusahaan menjual software HR enterprise dengan objective mendapatkan demo request dari perusahaan.

High Business Intent

  • software HR perusahaan
  • HRIS enterprise
  • sistem HR perusahaan
  • vendor HRIS Indonesia

Medium Business Intent

  • sistem absensi karyawan
  • software payroll
  • cara otomatisasi payroll

Low atau Irrelevant Intent

  • software HR gratis
  • contoh aplikasi HR untuk tugas kuliah
  • lowongan HRIS
  • download software HR crack

Keyword pada kategori terakhir dapat dipertimbangkan sebagai negative keyword berdasarkan data dan objective campaign. Workflow-nya dapat diringkas menjadi:

Keyword Planner → Intent & Business Relevance → Keyword → Match Type → Search Terms Report → Positive/Negative Keyword Update → Conversion Data → Optimization

Jangan Mengoptimalkan Kata Kunci Hanya Berdasarkan Click dan CPC

Keyword dengan CPC atau jumlah click yang lebih rendah belum tentu menghasilkan business outcome lebih baik. Misalnya:

  • Keyword A: 100 clicks → CPC Rp10.000 → 10 leads → 1 qualified lead.
  • Keyword B: 50 clicks → CPC Rp18.000 → 6 leads → 4 qualified leads.

Jika hanya melihat CPC, Keyword A terlihat lebih efisien. Namun, Keyword B menghasilkan lebih banyak qualified leads sehingga dapat memiliki business value lebih tinggi.

Karena itu, evaluasi keyword sebaiknya berkembang dari:

Impression → Click → Conversion → Qualified Conversion → Business Value

Untuk B2B, pengukurannya dapat dilanjutkan menjadi Keyword → Lead → Qualified Lead → Opportunity → Revenue.

Dalam pengelolaan Google Ads, Doxadigital tidak hanya melihat volume pencarian dan click. Keyword, search terms, match type, negative keyword, landing page, dan conversion data perlu dianalisis sebagai satu sistem agar campaign menjangkau demand yang lebih relevan.

Kesalahan dalam Memilih Kata Kunci Google Ads

Beberapa kesalahan yang perlu dihindari:

  • Memilih keyword hanya karena search volume tinggi.
  • Menggunakan keyword yang terlalu generic.
  • Menganggap exact match harus sama persis dengan pencarian pengguna.
  • Menggunakan broad match tanpa conversion tracking dan measurement yang memadai.
  • Tidak memeriksa Search Terms Report.
  • Menambahkan negative keyword secara berlebihan.
  • Memasukkan semua keyword ke satu ad group sehingga intent, ad message, dan landing page sulit diselaraskan.

Framework Memilih Kata Kunci Google Ads yang Tepat

Gunakan checklist berikut untuk mengevaluasi setiap keyword:

FaktorPertanyaan
RelevanceApakah terkait langsung dengan produk/layanan?
IntentApa yang ingin dilakukan pengguna?
Business ValueApakah searcher berpotensi menjadi customer?
DemandApakah terdapat search demand yang cukup?
Landing Page FitApakah tersedia halaman yang menjawab intent?
Match TypeSeberapa luas pencarian ingin dijangkau?
Performance DataApakah menghasilkan conversion berkualitas?

Gunakan alur:

Relevance → Intent → Demand → Match Type → Search Terms → Conversion → Optimize

Keyword list bukan dokumen sekali jadi. Strateginya perlu terus berkembang mengikuti real search behavior dan campaign data.

Ubah Riset Keyword Google Ads Menjadi Strategy untuk Menjangkau Demand yang Tepat

Memilih kata kunci Google Ads bukan sekadar memasukkan istilah dari Keyword Planner ke dalam campaign. Strategi yang lebih matang menghubungkan Search Intent → Business Relevance → Keyword → Match Type → Search Terms → Negative Keyword → Conversion Data.

Keyword Planner membantu menemukan potential demand, match type mengatur jangkauan, dan Search Terms Report menunjukkan query aktual. Negative keyword menyaring demand yang tidak relevan, sedangkan conversion data membantu menentukan keyword yang benar-benar memberikan value.

Jika campaign Google Ads Anda menghasilkan banyak click tetapi kualitas traffic atau conversion belum sesuai target, Doxadigital dapat membantu mengevaluasi keyword strategy, search terms, match type, negative keyword, campaign structure, hingga conversion measurement agar advertising budget diarahkan pada demand yang lebih relevan.

Konsultasikan Strategi Google Ads Anda bersama tim Google Ads Agency Jakarta yang siap membantu mengoptimalkan campaign berdasarkan tujuan bisnis Anda.

AI Summarize on:

Artikel Terbaru

Mohon Isi Form Dibawah Ini!

WA Popup Form ID