Ads

Cara Memilih Google Ads Agency yang Tepat untuk Perusahaan B2B

22 September 2026
Cara Memilih Google Ads Agency yang Tepat untuk Perusahaan B2B
AI Summarize on:

Memilih Google Ads agency untuk perusahaan B2B tidak cukup hanya dengan membandingkan harga jasa, jumlah campaign yang dikelola, atau status Google Partner. Partner yang tepat perlu memahami bagaimana budget iklan berhubungan dengan target bisnis, mulai dari qualified lead hingga sales pipeline dan revenue. 

Hal ini penting karena satu form submission belum tentu menjadi prospek yang layak ditindaklanjuti sales. Sales cycle B2B juga cenderung lebih panjang dan melibatkan lebih banyak pihak sebelum transaksi terjadi.

Mengapa Memilih Google Ads Agency untuk B2B Membutuhkan Kriteria yang Berbeda?

Pada bisnis e-commerce, perjalanan dari iklan sampai transaksi relatif lebih mudah dilacak: Klik iklan → halaman produk → checkout → revenue.

Pada bisnis B2B, prosesnya biasanya lebih panjang: Klik iklan → landing page → lead → qualified lead → opportunity → negosiasi → revenue.

Artinya, angka conversion di Google Ads belum memberikan gambaran lengkap. Misalnya, Agency A menghasilkan 100 lead dengan cost per lead (CPL) Rp200.000. Agency B hanya menghasilkan 50 lead dengan CPL Rp300.000.

Sekilas, Agency A terlihat lebih baik. Namun, bagaimana jika dari 100 lead Agency A hanya 5 yang memenuhi kriteria sales, sedangkan Agency B menghasilkan 20 qualified lead? Dalam kondisi tersebut, CPL yang lebih murah ternyata belum tentu menghasilkan dampak bisnis yang lebih besar. Karena itu, pengelolaan Google Ads B2B idealnya mempertimbangkan beberapa hal sekaligus:

  • search intent calon pelanggan;
  • kualitas lead;
  • data CRM;
  • hasil follow-up tim sales;
  • cost per qualified lead;
  • customer acquisition cost;
  • sales pipeline; dan
  • revenue yang dihasilkan.

Inilah alasan memilih Google Ads agency untuk B2B perlu melihat lebih jauh daripada kemampuan menurunkan CPC atau meningkatkan jumlah conversion.

7 Kriteria Memilih Google Ads Agency untuk Perusahaan

1. Memahami Tujuan Bisnis Sebelum Membahas Campaign

Saat pertama kali berdiskusi dengan agency, perhatikan pertanyaan yang mereka ajukan. Agency seharusnya tidak langsung masuk ke pembahasan:

keyword → budget → jenis campaign

Sebelum itu, mereka perlu memahami:

produk → target buyer → proses penjualan → nilai customer → conversion yang penting

Sebab setiap perusahaan bisa memiliki objective berbeda. Contohnya:

  • mendapatkan demo request;
  • meningkatkan Marketing Qualified Lead (MQL);
  • mendapatkan inquiry dari perusahaan skala enterprise;
  • membangun pipeline pada industri tertentu;
  • mendapatkan lebih banyak meeting untuk sales; atau
  • meningkatkan revenue dari demand yang sudah tersedia.

Objective tersebut akan memengaruhi keyword, targeting, bidding, landing page hingga conversion tracking yang digunakan.

Sebagai contoh, campaign yang menghasilkan 100 lead dan hanya 5 qualified lead belum tentu lebih baik daripada campaign dengan 40 lead tetapi menghasilkan 15 qualified opportunity. Agency yang baik akan menanyakan hasil bisnis apa yang sebenarnya ingin dicapai, bukan sekadar berapa jumlah klik yang diinginkan.

2. Mampu Menghubungkan Google Ads dengan Qualified Lead dan Revenue

Ini merupakan salah satu pembeda paling penting ketika memilih Google Ads agency untuk bisnis B2B. Perhatikan sampai sejauh mana agency mengukur performa. Apakah laporan berhenti di: Impression → Click → CTR → CPC → Conversion atau agency juga mencoba melihat: Click → Lead → Qualified Lead → Opportunity → Customer → Revenue.

Semakin panjang sales cycle perusahaan, semakin penting kemampuan untuk menghubungkan data advertising dengan aktivitas setelah seseorang mengisi formulir. Agency B2B idealnya memahami konsep seperti:

  • conversion tracking;
  • enhanced conversions;
  • offline conversion;
  • integrasi CRM;
  • lead qualification; dan
  • value-based measurement.

Google sendiri menyediakan enhanced conversions yang dapat membantu meningkatkan akurasi pengukuran dengan menggunakan first-party data dan data conversion yang terjadi setelah interaksi awal dengan iklan.

3. Memiliki Strategi Google Ads yang Sesuai dengan Buying Journey

Tidak semua bisnis membutuhkan struktur campaign yang sama. Dalam perusahaan B2B, Google Ads dapat memiliki fungsi yang berbeda pada setiap tahap buying journey.

Misalnya:

CampaignPeran yang Mungkin Digunakan
Search AdsMenangkap calon pelanggan yang sudah memiliki kebutuhan dan aktif mencari solusi
RemarketingMenjangkau kembali pengguna yang sebelumnya sudah berinteraksi dengan bisnis
Display/VideoMendukung awareness jika relevan dengan objective
Demand GenMembantu menjangkau audiens dalam tahap discovery dan consideration

Namun, jangan menilai agency berdasarkan berapa banyak tipe campaign yang mereka gunakan. Semakin banyak campaign bukan berarti semakin baik. Agency perlu bisa menjawab tiga pertanyaan:

  1. Mengapa campaign tersebut digunakan?
  2. Siapa audiens yang ingin dijangkau?
  3. Bagaimana keberhasilannya akan diukur?

Waspadai jawaban seperti:

“Kami akan menggunakan semua fitur Google Ads agar hasilnya maksimal.”

Strategi yang baik selalu memiliki alasan bisnis di balik pemilihan channel, audience, bidding, dan budget.

4. Menilai Google Partner dan Sertifikasi dengan Tepat

Sertifikasi dan status Google Partner memang dapat menjadi salah satu indikator untuk menilai agency. Ada perbedaan antara Google Ads Certification dan Google Partner.

Google Ads Certification menunjukkan bahwa seorang individu telah memenuhi persyaratan sertifikasi untuk produk Google Ads tertentu.

Sementara itu, Google Partner atau Google Premier Partner merupakan status perusahaan dalam program Google Partners.

Google menyebutkan bahwa perusahaan yang menjadi Premier Partner harus memenuhi persyaratan Partner dan termasuk dalam 3% perusahaan peserta teratas di negara masing-masing berdasarkan evaluasi tahunan. Faktor evaluasinya antara lain pertumbuhan dan retensi klien, diversifikasi produk, serta belanja iklan.

Jika Anda sedang mencari Google Ads Agency Jakarta untuk membantu mengelola campaign secara lebih terarah, Doxadigital dapat menjadi salah satu pilihan. Doxadigital merupakan Google Premier Partner dengan tim Google Ads tersertifikasi dan pengalaman membantu lebih dari 500 bisnis menjalankan Google Ads.

5. Transparan terhadap Account, Budget, dan Agency Fee

Sebelum menandatangani kontrak, pastikan ada pemisahan yang jelas antara: Advertising spend ≠ agency fee.

Advertising spend adalah uang yang digunakan untuk membeli media atau iklan di Google. Agency fee adalah biaya yang Anda bayarkan kepada agency untuk layanan pengelolaan. Tanyakan secara jelas apa saja yang termasuk dalam penawaran:

  • media budget;
  • management fee;
  • setup fee jika ada;
  • pembuatan creative;
  • pembuatan atau optimasi landing page;
  • implementasi tracking;
  • reporting; dan
  • layanan tambahan lainnya.

Jika ingin memahami bagaimana budget iklan bekerja, Anda juga dapat membaca panduan mengenai anggaran Google Ads. Selain biaya, perhatikan juga akses dan kepemilikan account. Pastikan perusahaan memiliki akses yang cukup ke Google Ads account dan memahami apa yang akan terjadi jika kerja sama dengan agency berakhir.

6. Tidak Hanya Mengoptimalkan Iklan, tetapi Juga Conversion Journey

Google Ads yang bagus tidak otomatis menghasilkan conversion jika pengalaman setelah klik buruk. Dalam praktiknya, kami sering melihat bahwa masalah performa tidak selalu berada di keyword atau bidding. Campaign bisa sudah mendatangkan audiens yang tepat, tetapi calon pelanggan berhenti karena:

  • landing page tidak sesuai dengan isi iklan;
  • value proposition sulit dipahami;
  • formulir terlalu panjang;
  • website lambat;
  • CTA tidak jelas; atau
  • informasi yang dibutuhkan calon buyer tidak tersedia.

Karena itu, agency sebaiknya mampu melihat perjalanan yang lebih lengkap: Ad → Landing Page → Conversion Experience. Agency tidak harus mengerjakan seluruh website Anda.

Namun, setidaknya mereka dapat menunjukkan bagian mana dari conversion journey yang kemungkinan menjadi hambatan dan memberikan rekomendasi berdasarkan data. Pendekatan ini lebih sehat daripada terus meningkatkan budget untuk campaign yang sebenarnya memiliki masalah setelah pengguna mengklik iklan.

7. Memiliki Reporting yang Membantu Pengambilan Keputusan

Dashboard dengan puluhan grafik belum tentu merupakan laporan yang baik. Reporting yang berguna justru harus membantu perusahaan memahami empat hal. Seperti:

Apa yang terjadi?

Misalnya, jumlah conversion turun 15%.

Mengapa hal itu terjadi?

Contohnya, volume pencarian turun atau beberapa keyword ternyata banyak menghasilkan lead yang tidak sesuai target.

Apa yang sudah dilakukan?

Misalnya, budget dipindahkan ke campaign yang menghasilkan lead lebih baik, negative keyword ditambahkan, atau strategi bidding disesuaikan.

Apa yang akan dilakukan berikutnya?

Misalnya, menguji landing page baru atau memasukkan data qualified lead dari CRM ke measurement. Untuk bisnis B2B, pelaporan sebaiknya secara bertahap bergerak dari: CTR/CPC → Conversion → CPL → Qualified Lead → Pipeline → Revenue. Agency juga harus dapat menerjemahkan data tersebut menjadi bahasa bisnis.

Marketing manager atau manajemen perusahaan tidak hanya perlu tahu bahwa CTR naik 20%. Mereka perlu memahami apakah perubahan tersebut membuat penggunaan budget menjadi lebih efektif dan mendekatkan perusahaan pada target bisnis.

Pertanyaan yang Perlu Diajukan Sebelum Hiring Google Ads Agency

Ketika membandingkan beberapa agency, gunakan pertanyaan berikut sebagai checklist:

  1. Bagaimana Anda menentukan strategi sebelum campaign dimulai?
  2. Metric apa yang akan digunakan untuk menentukan keberhasilan campaign kami?
  3. Bagaimana Anda membedakan lead dengan qualified lead?
  4. Bagaimana conversion tracking dan data CRM digunakan dalam optimasi?
  5. Siapa yang akan mengelola account kami sehari-hari?
  6. Apa saja yang termasuk dan tidak termasuk dalam agency fee?
  7. Bagaimana proses reporting, optimization, dan komunikasi dilakukan?

Untuk perusahaan dengan banyak produk, wilayah atau stakeholder, tambahkan satu pertanyaan:

“Bagaimana Anda mengatur campaign dan proses kerja jika account memiliki banyak produk, region, budget, dan stakeholder?”

Agency yang memahami bisnis biasanya dapat menjelaskan alasan di balik pendekatan mereka, bukan hanya menunjukkan proposal berisi daftar fitur.

Baca Juga: Cara Memilih Konsultan Google Ads

Red Flags Saat Memilih Google Ads Agency

Selain melihat kemampuan agency, ada beberapa tanda yang sebaiknya membuat perusahaan lebih berhati-hati.

  1. Menjanjikan Hasil Secara Absolut: Hindari janji revenue atau hasil tertentu sebelum agency memahami data, kondisi pasar, produk, sales process, dan historical performance Anda. Google Ads bekerja melalui sistem lelang dan hasilnya dipengaruhi banyak variabel.
  2. Hanya Membicarakan Click dan Traffic: Traffic penting, tetapi bukan tujuan akhir Google Ads B2B. Pertanyaan sebenarnya adalah: apakah traffic tersebut menghasilkan demand yang berkualitas?
  3. Tidak Transparan Mengenai Account dan Advertising Spend: Perusahaan perlu memahami biaya, akses account dan data performa sejak awal kerja sama.
  4. Menggunakan Strategi yang Sama untuk Semua Client: Struktur campaign seharusnya mengikuti objective, karakter market, customer journey, budget dan tingkat kematangan marketing perusahaan.
  5. Tidak Bisa Menjelaskan Apa yang Dilakukan terhadap Data: Jawaban seperti: “Campaign terus kami optimasi.” belum cukup. Agency harus bisa menjelaskan: Apa yang diubah → mengapa diubah → bagaimana hasilnya → apa langkah selanjutnya.

Gunakan Scorecard untuk Membandingkan Google Ads Agency

Jika Anda sedang membandingkan tiga atau empat agency sekaligus, jangan hanya mengandalkan kesan dari presentasi. Gunakan scorecard sederhana.

KriteriaContoh Bobot
Business & Industry Understanding15%
Google Ads Strategy20%
Measurement & CRM Capability20%
Team & Expertise15%
Transparency & Governance10%
Reporting & Communication10%
Fee & Commercial Fit10%
Total100%

Berikan nilai pada setiap agency untuk masing-masing kategori, kemudian kalikan dengan bobotnya. Bobot tersebut tentu dapat disesuaikan.

Perusahaan B2B dengan sales cycle enam bulan, misalnya, mungkin perlu memberikan bobot lebih besar pada measurement dan CRM capability. Sementara perusahaan dengan banyak produk atau wilayah operasional mungkin lebih membutuhkan governance dan scalability.

Dengan metode ini, keputusan tidak hanya bergantung pada agency yang memberikan harga paling rendah atau presentasi paling menarik. Pilih agency berdasarkan capability yang paling relevan dengan business objective perusahaan.

Baca Juga: Biaya Google Ads: Menentukan Anggaran Iklan untuk Bisnis

Pilih Google Ads Agency yang Menghubungkan Advertising dengan Pertumbuhan Bisnis

Pada akhirnya, memilih Google Ads agency bukan hanya menentukan siapa yang akan membuat keyword, memasang iklan, dan melakukan optimasi. Anda sedang memilih partner yang ikut mengelola advertising budget, membaca customer intent, membangun measurement, serta membantu mengambil keputusan berdasarkan data.

Untuk perusahaan B2B, evaluasi sebaiknya tidak berhenti pada click dan conversion. Agency yang tepat perlu membantu perusahaan melihat hubungan:

Advertising Spend → Qualified Demand → Sales Pipeline → Business Impact

Jika perusahaan Anda membutuhkan partner untuk merancang, mengelola, dan mengoptimalkan campaign berdasarkan tujuan bisnis, Doxadigital sebagai Google Ads Agency Jakarta dapat membantu menyusun strategy, campaign management, conversion tracking, landing page optimization hingga performance analysis. 

Dengan strategi Google Ads yang terintegrasi dengan tujuan bisnis, perusahaan dapat mengoptimalkan advertising budget, meningkatkan kualitas leads, serta mengukur kontribusi campaign terhadap sales pipeline. Konsultasikan strategi Google Ads Bisnis Anda dengan Doxadigital sekarang!

AI Summarize on:

Artikel Terbaru

Mohon Isi Form Dibawah Ini!

WA Popup Form ID